Senin, 24 November 2008
Ingin Sehat, Kunyahlah Hingga Lembut
Perut kita ibarat waduk. Menampung semua makanan dan minuman yang masuk. Tak peduli manis, asem, asin atau bahkan pahit. Selama bisa melewati tenggorokan berarti akan ditampung di perut. Karenanya harus hati-hati dengan urusan perut.
Tanpa diminta, dengan sendirinya, segala makanan yang masuk akan digiling oleh perut kita. Baik di saat tidur maupun jaga, pencernaan kita akan terus bekerja. Tahu-tahu sudah jadi energi penyuplai tenaga bagi tubuh kita.
Ibarat mesin, pencernaan akan terus bekerja. Selama nyawa masih di kandung badan, pencernaan tak pernah berhenti menggiling makanan di perut. Tak peduli yang lunak maupun yang keras, semua akan dilumat oleh pencernaan kita.
Tapi bagaimanapun juga, organ tubuh kita butuh istirahat. Butuh sejenak behenti dari ‘pekerjaan menggiling’, meskipun tidak berhenti total (karena selama masih hidup berarti masih terus menggiling). Ini dimaksudkan untuk relaksasi. Mesin saja butuh istirahat, apalagi organ tubuh kita (kecuali detak jantung, pemompa darah).
Karenanya bagi umat Islam diharuskan puasa. Ibadah puasa akan memberi dampak positif bagi kesehatan tubuh kita. Oleh karenanya bagi yang bisa merasakan manfaat puasa bagi kesehatan, pasti akan semangat menjalankannya, meskipun puasa sunnah.
Bagi yang ‘males puasa’ ada tips lain yang juga bagus buat kesehatan kita. Yaitu, kunyahlah makanan Anda hingga lembut. Makanan yang dikunyah hingga lembut akan membantu proses penggilingan. Usus yang menggiling makanan akan terbantu dalam bekerja.
Rasulullah memerintahkan kita agar jangan tergesa-gesa menelan makanan. Kunyahlah terlebih dahulu hingga lembut. Paling tidak 33 kali kunyahan..(ha..). Upss..!! Jangan kaget dulu. Itu hitungan yang ideal. Kalaupun toh belum bisa sebanyak itu, minimal sudah mengunyah sampai lembut. Yang pasti setelah saya coba, kunyahan 5-10 kali itu belum lembut.
Ambil contoh begini, nasi yang kita kunyah 5-10 kunyahan, (maaf) coba kita keluarkan lagi. Tak perlu banyak-banyak. Cukup seujung lidah. Pasti buliran nasinya masih utuh. Itu artinya belum lembut. Lalu buanglah nasi yang dikeluarkan tadi dan teruskan mengunyah makanan yang ada di mulut hingga (terasa) lembut.
Ulangilah kebiasaan ini setiap Anda makan. Apa saja jenis makanannya. Terutama saat makan nasi. Rasakanlah manfaatnya bagi kesehatan perut. Perut Anda akan terasa ringan. Tidak ada rasa mengganjal di lambung mekipun saat kenyang. Bagi perut buncit (seperti saya) akan terasa biasa. Bahkan jika diniatkan untuk menjalankan sunnah rasul maka Anda dapat pahala. Bahkan dua pahala. Pahala makan untuk beribadah dan mengunyah makanan hingga lembut.
Oleh karena itu, perhatikan urusan makanan Anda. Ingat sabda Nabi ‘Perut adalah Sumber Segala Penyakit’
Selamat mencoba dan mendapatkan manfaatnya..!
Rabu, 19 November 2008
Berebut Hak di Jalan
Lagi-lagi soal rebutan hak bagi para pengguna jalan. Siapa lagi pelakunya kalo bukan ‘Jagal Jalan’ alias sepeda motor. Kejadian pagi tadi bukan sesama sepeda motor tapi dengan pejalan kaki. Menurutku, jelas jomplang. Kalau ‘Jagal’ dengan ‘Jagal’ mungkin agak sebanding. Tinggal Jagal mana yang ngototnya lebih kencang, gertakannya lebih dahsyat dan ba bi bu-nya tok cer maka dia bisa menang. Tapi dengan syarat dia pada posisi benar, saya bisa maklum, sebab ini Ibu Kota, men..!. (kata judul di film, lebih kejam daripada ibu tiri). Siapa pintar dan benar maka dia tidak akan diinjak-injak haknya.
Tapi, karena kejadian tadi pagi benar-benar ulah ‘Jagal Jalan’ yang biadab, maka kekesalan itu terpaksa saya tumpahnya di blog ini.
Ceritanya begini, di Jl. Sisingamangaraja Jaksel arah ke Bunderan Patung Olah Raga, di situ selalu macet. Bukan hanya karena traffic light, tapi volume kendaraan memang cukup tinggi. Ini disebabkan pertemuan antara kendaraan dari arah Blok M & dari arah Pakubuwono.
Saling serobot sesama Jagal Jalan tak bisa dihindari. Bahkan saling serobot sesama roda 4 menuju jalur cepat juga kerap terjadi. Siapa gesit mencari celah maka selangkah dua langkah akan bisa mendapat tempat di depan. Uji nyali dan kendali emosi harus menjadi benteng bagi Jagal lain yang merasa didahului. Suasana seperti ini tak bisa dihindari. Karenanya butuh kesabaran ekstra ketat. Kita maklum, selama si Jagal yang gesit mencari celah dianggap tidak reseh dan masih dalam batas wajar, ya silakan saja. Kata stiker di spakbore belakang ‘Monggo Silakan Nyalip’. Ini pertanda Sesama Jagal Boleh Saling Mendahului.
Tapi yang membuat saya dan Jagal lain dongkol bahkan ingin ikut membantu nampar mukanya, adalah sikap Jagal yang mengambil hak-nya pejalan kaki di trotoar. Trotoar yang disediakan bagi pejalan kaki, di Jakarta, sering berubah fungsi. Bukan saja menjadi jalan bagi si Jagal, tapi kadang berubah menjadi tempat parkir, lapak kali lima bahkan untuk tambal ban.
Sepertinya, pejalan kaki tadi pagi orangnya santai. Tak terusik dengan hiruk pikuk kemacetan di sampingnya. Merasa berada di jalan yang benar, dia tidak menggubris klakson bersahutan di belakangnya. Alih-alih memberi celah bagi si Jagal untuk mendahuluinya, menoleh ke belakang pun tidak.
Beberapa Jagal yang sadar akan hak si pejalan kaki, lalu tahu diri. Mereka kembali ke jalan yang benar. Turun ke jalan raya dan memberi kesempatan pejalan kaki untuk menggunakan haknya.
Dua sampai lima kendaraan tahu diri. Dalam hatiku mereka cukup dewasa. Baik berfikir maupun berbuat. Hingga akhirnya dia mau kembali ke jalannya dan memberi hak pejalan kaki. Tapi tiba-tiba ada selonong boy memaksakan diri. Klakson dibunyikan berkali-kali. Bahkan terus menjejalkan kuda besinya ke sebelah kanan si pejalan kaki yang sempit. Merasa terusik, pejalan kaki tadi jengkel naik pitam. Dia berhenti dan membalikkan badan. Sepertinya pasang kuda-kuda ingin melakukan sesuatu. Akhirnya, prak…!! Tangan pun melayang ke (helm) kepala si Jagal.
Si Jagal tidak terima. Dia ingin membalas. Sambil membuka helm kuda besinya di standarkan. Ia mendekati pejalan kaki yang menamparnya. Begitu melihat wajah si Jagal masih belia, beberapa jagal lain berhenti melerai. Si Jagal yang masih ‘ingusan’ tadi dipegang tangannya oleh yang melerai. Ia dinasehati. Beberapa Jagal yang simpati kepada pejalan kaki, justru ikut membantu mengomeli bocah ingusan tadi. Satu di antaranya, nyelonong tanpa basa basi. Dia langsung meludah ke muka si bocah tadi. Juh……!!! Langsung pergi.
Sebetulnya saya ingin ‘berpartisipasi’ untuk meludahi, tapi kesempatan itu sudah didahului orang lain. Yah, cukuplah orang lain yang berbuat. Karena sering kali saya dijengkelkan dengan ulah-ulah seperti itu dan hingga mengusik saya ingin meludahi si Jagal brengsek.
Itulah kondisi pengguna jalan di Jakarta. Yang sebetulnya masing-masing sudah diberi hak dan sudah diatur lajurnya sedemikian rupa. Supaya pengguna jalan berada di trek yang sebenarnya.
Selasa, 28 Oktober 2008
Filosofi Lontong, Ketupat dan Lepet
Filosofi Lontong, Ketupat dan Lepet
Orang tua kita dulu, tidak asal membuat sesuatu tanpa pesan moral yang terkandung di dalamnya. Apa pesan moral yang terkandung di dalam ketiga makanan tersebut ?
Lontong : (K)lontong-kan hatimu, kosongkan hatimu, gembukkan hatimu. Agar kamu punya sikap peduli dan empati kepada sesama. Salah satu karakteristik lontong adalah lunak / tidak keras. Hati yang gembuk (tidak keras) akan mudah menerima nasehat orang lain. Orang yang hatinya lunak pasti mudah dinasehati, mudah menolong orang lain.
Klontong adalah jembatan kecil. Ia sebagai sarana orang menyebrang dari satu tempat ke tempat lain. Bentuknya bulat dan bolong. Dengan klontong ini, orang akan bisa melangkah dari satu tempat ke tempat lain dengan mudah. Tanpa klontong, orang akan susah payah meloncat untuk menyebrangi jalan.
Sebuah filosofi indah dan menawan dan bisa kita praktekkan di dalam kehidupan kita sehari-hari. ‘Punya hati / jiwa yang lapang’, ‘Suka membantu, menolong dan meringankan beban orang lain’, ‘Mudah dinasehati dan mudah menerima nasehat itu sebagai pengingat diri’
Orang yang mengakui kesalahan berarti dia orang yang pemaaf. Tanpa diminta maaf oleh orang lain yang berbuat salah kepadanya maka ia akan memaafkan. Suatu saat ketika dia salah, maka langsung mengakui dan meminta maaf.
Zaman sekarang berat sekali mengakui kesalahan diri sendiri. Yang ada hanyalah menutup-nutupi kesalahan kita.
Dengan Kupat berarti kita harus gentle mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada orang yang kita buat kesalahan tadi
Bahan bakunya ketan. Bungkusnya memakai daun kelapa muda. Kalau yang suka variasi, ya ditambah kacang tolo atau potongan kelapa muda.
Makanan ini mirip lontong. Hanya bedanya, ujung dan pangkal lepet diikat dengan tali bamboo (kecil). Tengah juga diikat. Mirip seperti mengikat orang yang sudah meninggal.
Makanan ini membawa pesan moral bahwa semua kita pasti akan ; mati
Rabu, 15 Oktober 2008
Hikmah (setelah) Ramadhan
Hikmah (setelah) Ramadhan
Wisudawan wisudawati Ramadhan yang dimuliakan Allah..
Setelah kita lalui ujian selama sebulan penuh, akhirnya dapat juga kita raih sebuah gelar baru yakni sarjana Ramadhan. Semoga predikat muttaqin tetap tersemat di pundak kita. Sehingga sebelas bulan ke depan kita tetap dapat menjaga sikap kepribadian kita seperti pelajaran yang kita dapatkan selama bulan Ramadhan.
Dengan semangat Idul Fitri 1429 H, dan mumpung masih di bulan Syawal saya ucapkan ja’alanallahu waiyyakum minal aidin wal faizin, wa antum kullu aamin bikhoirin. Taqabbalallahu minna wa minkum, amin. Jika ada khilaf & kesalahan saya kepada para pembaca semua, saya tidak segan untuk meminta maaf kepada pembaca semua.
Banyak pelajaran penting kita dapatkan selama bulan Ramadhan. Hingga saking banyaknya, saya tidak mampu untuk menuliskannya di blog saya ini. Tapi insya Allah sudah terekam di memori saya dan orang-orang yang sempat mendengar kultum-kultum singkat saya di berbagai kesempatan.
Itu semua merupakan hasil renungan dan kilas balik ilmu yang saya dapatkan dan pernah saya pelajari. Pada kesempatan Ramadhan lalu, alhamdulillah saya mau mencoba dan sengaja memaksakan diri untuk berbagi ilmu dengan jamaah sholat tarawih di tempat tinggal saya. Karena tuntutan itulah akhirnya saya dipaksa untuk membaca dan kulakan ilmu dari berbagai macam kesempatan, sekaligus me-muthola’ah (membaca ulang) atas ilmu-ilmu yang pernah saya kaji. (karena Ramadhan-ramadhan tahun sebelumnya saya tidak pernah mau memanfaatkan kesempatan seperti itu)
Hikmahnya cukup saya rasakan. Terutama dapat membangkitkan saya untuk terus mengasah kemampuan retorika saya dalam berdakwah menyampaikan syariat Islam. Puncaknya, saya rasakan saat Idul Fitri tiba. Kesempatan menjadi khotib kali kedua di Masjid Al Husna kampung saya, menjadi titik ukur sejauhmana saya bisa merasakan perubahan atas diri saya, terutama dalam hal ‘berbicara’. Al hamdulillah, isi khutbah saya, menurut banyak orang yang berkomentar langsung kepada saya atau kepada keluarga saya, cukup menyentuh dan sesuai konteknya (Ya Allah, jauhkanlah saya dari sifat sombong dan riya). (tema yang saya bawakan ‘Berbuat Baik Kepada Orang Tua’)
Memang saya melihat sendiri saat khutbah, jamaah yang berada di barisan paling depan, banyak yang sesenggukan dan menyeka air mata serta mengusap ingus. Pertanda dia terharu dan tersentuh dengan isi khutbah saya. Usai khutbah berlangsung, saya didekati banyak jamaah, mulai dari yang meminta copian khutbah, sampai yang membenarkan isi khutbah saya (sambil menangis di hadapan saya). “bener kuwe noor.., nek ora mbok elengke ngono, bocah saiki podo lali lan kurang ajar karo wong tuwo” (betul apa yang kamu sampaikan, noor –panggilan akrab saya di kampung– kalau tidak kamu ingatkan seperti itu, anak-anak sekarang lupa dan kurang ajar sama orang tua).
Saya membayangkan, andai saja khotbah tahun lalu saya sampaikan dengan bahasa jawa, seperti yang saya sampaikan tahun ini, mungkin isinya akan lebih mengena dan lebih diterima oleh semua jamaah solat Id. Tapi karena tahun lalu saya memakai bahasa Indonesia, akhirnya isi khutbah saya belum bisa berkesan seperti khotbah saya tahun ini. Memang awalnya saya mencoba (maaf) ‘sok’ intelek dan menggunakan beberapa istilah yang kurang membumi, namun justru masyarakat kurang respek dan kurang simpatik, meskipun sebagian kalangan orang-orang moderen saat ini, bisa mencerna bahasa dan isi khutbah saya. Tapi diakui oleh para ibu-ibu bahwa banyak istilah dan pola pikir yang belum nyambung dengan pikiran mereka sehingga isi khutbah tidak bisa ditangkap dan dicerna secara utuh dan menyeluruh.
Akhirnya saya sadar dan ingat atas sabda Rasulullah yang artinya ‘berbicaralah dengan orang lain sesuai kemampuan akal mereka’. Karenanya kita harus melihat kepada calon audiens sebelum kita bicara, kita pelajari dulu siapa pendengarnya. Lalu kita harus menyesuaikan bahasa kita dengan bahasa mereka agar bisa dicerna. Apalah artinya kita bicara muluk-muluk tapi orang lain tidak tahu. Apalagi sampai mau merubah diri. Padahal tujuan berdakwah kita, tujuan kita menyampaikan agama adalah merubah perilaku dari yang salah menuju yang benar, dari yang bathil menuju yang haq, dari yang bengkok menuju yang lurus.
Kamis, 11 September 2008
Pengamen VS Peminta Sumbangan
Kangen sekali rasanya saya menikmati suasana bus kota di Jakarta. Karenanya, hari itu saya berniat mengandangkan kuda besi tua saya sejenak dan memberinya cuti. Maklum umurnya sudah tua (seumur anak kelas 3 SMP). Sekaligus saya ingin mengenang enam tahun silam saat saya berebut kursi, berdesak bersikutan, bergelantungan dan menghirup ‘aroma parfum’ di bus kota yang serbaneka. Serta kangen rasanya mendengarkan ocehan, lantunan dan syair lagu serta puisi anak jalanan yang lalu lalang serta naik turun silih berganti di bus kota.
Hari itu, saya berangkat pukul 05.50. Waktu yang sangat pagi dan amat jarang saya jalani sebelumnya. Paling-paling dua atau tiga kali setahun. Saat ada acara mendesak. Sembari berniat mengejar waktu agar bisa sampai kantor jam 7.00. Atau paling lambat 7.30. Karena saya sudah komitmen dengan teman-teman kantor bahwa bulan Ramadhan ini jam kantor berubah menjadi 07.30 s.d 16.30 / 07.00 s.d. 16.00 wib.
Tak lama kemudian, datang bus Damri P21 Ciputat - Blok M. Awalnya ragu untuk naik. Tapi akhirnya kuputuskan untuk naik daripada nunggu Patas 57 Ciputat – Gajah Mada yang belum tentu setengah jam lagi muncul. Bus yang mirip onggokan besi tua ini ternyata masih menjadi pilihan favorit penumpang dari Ciputat. Terbukti begitu bergerak dari arah Pasar Ciputat yang sekarang sudah ‘bersolek’ (karena fly over-nya sudah mulai digunakan) bus Damri ini sudah penuh penumpang. Banyak yang sudah berdiri bergelantungan. Sampai bus-nya miring ke kiri. Ya, tak apalah. Kalau yang lain saja pada mau naik, kenapa saya tidak. Toh mereka dan saya juga sama-sama punya niat agar tidak telat masuk kantor. Apalagi begitu sampai di Blok M langsung dijemput Bus Way, hmm..sepertinya suasana di dalam Damri ini hilang oleh suasa penumpang Bus Way yang bening dan kelimis-kelimis...(bukan kelihatan miskin, lho....)
Bus berjalan melenggok. Sesekali bunyi kriet...kriet...terdengar dari kopling yang dipaksakan pak sopir. Memasuki titik-titik kemacetan, knalpot bus mulai memuntahkan asapnya yang hitam pekat. Di dalam bus, saya teringat saat naik motor tepat berada di belakang cerobong knalpot bis ini. Saya sering mengumpat karena aroma knalpotnya yang hitam pekat selalu menelusup ruang kosong badan saya sampai baju yang paling dalam. Tak pelak meskipun pakai jaket tebal, tetapi tetap saja begitu sampai kantor, jaket dibuka, wush....aroma knalpot yang tersimpan di lekukan baju dan badan saya langsung menyembul keluar. Ughh..! nikmat....
Dititik-titik kemacetan seperti inilah tempat para pengamen cilik dan peminta sumbangan melalukan aksinya. Termasuk para peminta-minta. Saya melilhat dari arah belakang, naik pengamen sekitar umur 8 tahun. Mungkin karena badannya kecil, sehingga tidak terlihat oleh teman seprofesinya di luar. Kemudian dari pintu depan naik juga peminta sumbangan yang membawa kotak amal. Sebelum naik dia sudah melihat ke dalam bus sambil mengamati apakah ada teman seprofesinya ataukah tidak. Dia tidak tahu kalau dari belakang sudah ada teman seprofesinya yang sudah naik duluan.
Mulailah si pengemen ini menyapa penumpang dengan salam pembuka. Sementara peminta sumbangan yang berdiri di bagian depan, kaget dan terbelalak ketika mendengar salam pembuka dari pengamen yang cukup melengking dari arah tengah bus. Sorot mata peminta sumbangan menatap tajam si anak. Sepertinya memberi isyarat agar lagunya dipercepat sehingga dia juga mendapat giliran menyalami penumpang. Tetapi karena pandangan si anak tertuju ke luar bus menjadikan dia tidak tahu bahwa di bagian depan ada sorot mata tajam yang sepertinya meminta untuk mempercepat aksinya.
Lagu pertama cukup enak dinikmati. Diiringi kecrek tutup botol ditangannya menambah sedikit berbeda daripada hanya vokal saja. Saya sendiri yang berdiri tepat di hadapan si anak merasa senang mendengar lagu yang dinyanyikan itu. Suaranya merdu dan liriknya juga hafal. Dalam benak saya berfikir, wah...jangan-jangan si anak ini terobsesi oleh Aries pemenang Indonesian Idol 2008. Kepiawaian Aries mampu menyihir Titi DJ saat audisi pertama melalui lagu yang dibawakan Aries (saya lupa judul dan penyanyi aslinya. Karena meskipun saya suka lagu tapi tidak minat untuk menghafal siapa penyanyi dan judulnya, pokoknya reff-nya begini...dapatkah aku memeluknya, jadikan bintang di surga...). Lima kali menjadi juri di Indonesian Idol, Areis-lah satu-satunya orang yang mampu membuat Titi DJ merinding dan menangis saat menyeleksi para audisi. Dan akhirnya melalui lagu yang dibawakan itu, Aries, sang pengamen jalalan, menjadi pemenang Indonesia Idol 2008. Dalam benak saya, mungkin si anak ini punya obsesi seperti Aries. Menjadi orang hebat yang dirintis dari jalanan. Sehingga ia memilih lagu itu sebagai lagu pilihan utama ketika berada di dalam bus kota.
Lagu pertama selesai saya sudah siap-siap dengan recehan yang tersedia di kantong tas saya. Ternyata, pengamen ini meneruskan lagu keduanya. Sambil kembali menyapa penumpang dia membawakan lagu keduanya dengan lirik yang juga terkenal. (tapi lagi-lagi saya tidak tahu penyanyi dan judulnya. Yang pasti saya suka lagu itu). Saat pengamen ini menoleh ke arah depan dia baru sadar kalau di depan ada dua mata yang menyorot tajam ke arahnya. Tapi dia malah cuek. Sementara si peminta sumbangan justru semakin geram dengan lagu kedua yang dibawakan si anak ini. Seakan-akan peminta sumbangan ini mau berbuat sesuatu untuk segera menyudahi nyanyian si anak. Saya mengamati gerak geriknya dengan serius. Secara bahasa tubuh, jelas-jelas ia ingin bertindak secara fisik. Karena dari tadi saya amati kotak amal yang ada ditangannya mulai dipukul-pukulkan ke arah paha dia. Wajahnya juga tegang memerah. Dan dia tidak mau turun dari bus meskipun di dalamnya sudah ada teman seprofesinya. Padahal lazimnya, jika di dalam bus sudah ada teman seprofesinya, biasanya salah satunya mengalah dan turun mencari bus lain yang tidak ada temannya.
Sementara pengamen cilik tadi menikmati lagu yang dia nyanyikan sendiri. Sepertinya, meskipun secara fisik anak ini jauh lebih kecil dibandingkan peminta sumbangan tadi, tapi mental jalanannya tak mau kalah. Semakin dia diplototi oleh peminta sumbangan justru membuat keberanian dia semakin kuat. Si anak melanjutkan lagu ketiganya. Saya sendiri juga terhenyak. Lho! Berani amat ini anak.
Begitu si peminta sumbangan mendengar si anak melanjutkan aksinya, tak lama kemudian dia mulai beringsut ke tengah. Prediksi saya mulai terbukti. Kalau pun dia mau turun, kenapa tidak melalui pintu depan saja. Toh lebih dekat. Kenapa ia memilih lewat belakang. Wah, pasti ada yang tidak beres ini, begitu gerutu saya..
Setelah dia berhasil melewati penumpang berdiri yang berjejal-jejal, akhirnya sampailah ia dekat dengan si anak. Sedangkan si anak tampak cuek tak menghiraukannya. Tiba-tiba tanpa sepatah katapun kotak amal yang dipegang tadi melayang ke arah tubuh si anak. Prak..!!..
Ha...!! saya tercengang. Si anak tak mengaduh. Dia hanya membalas dengan ejekan. Wue..!! (sambil menjulurkan lidahnya) Si pembawa kotak amal membalas lagi dengan mengacungkan kotak amalnya, tapi kali kedua ini tidak sampai dipukulkan si anak. Lagu ketiga yang dinyanyikan sempat terhenti. Para penumpangpun tak ada yang berbuat banyak atas kejadian itu. Pukulan ini justru membuat iba penumpang, di samping suaranya memang layak untuk diberi apresiasi. Akhirnya, begitu selesai lagu ketiga, mulailah senjata bungkus permen dikeluarkan. Dia menyusur dari satu kursi ke kursi lain. Begitu sampai di depan saya, saya melihat uang ribuan cukup memenuhi kantong senjatanya. Meskipun saya sendiri tidak memasukan yang ribuan, tapi minimal cukuplah kalau untuk beli satu buah gorengan.
Ternyata bus kota yang selama ini saya tinggalkan masih menyimpan banyak pelajaran hidup bagi saya dan mungkin penumpang lain di bus kota. Termasuk pelajaran yang saya dapatkan dari kedua ’pencari rizki’ di jalanan tadi. Bahwa berebut lahan rizki untuk mencari sesuap nasi terjadi di semua tempat. Saling sikut, saling tendang kalau perlu saling bunuh, terkadang menjadi pilihan bagi mereka yang tidak menyadari hakikat kehidupan dan cara mencari rizki yang baik dan halal di mata Allah.
Senin, 01 September 2008
Ramadhan
Semoga Tidak Hanya Berulang dan Berulang
Aku bersimpuh memohon kepada-Mu, Ya Rabb
Agar Kesempatan Emas yang menghampiri hamba ini
Tidak lewat begitu saja
Aku berjanji kepada diriku, Ya Allah
Akan memaknai Bulan Penuh Makna ini
Dengan amalan lebih baik dari Ramadhan sebelumnya
Aku berlindung diri, ya Ghaffar
Dari gelimang dosa yang menjauhkan rahmat-Mu
Dari bujuk rayu nafsu pemuas duniawi
Ya, Qahhaar...
Kuatkan jiwa raga ini menggapai janji baik-Mu
Kokohkan diri ini menghalau ranjau nikmat-Mu
Agar si Dia tidak hanya melewati saya
Tanpa mampu mengisi perbuatan nyata
Yang bisa meningkatkan derajat di hadapan-Nya
Minggu, 31 Agustus 2008
Launching buku Zakat

“Bersama ini kami perkenalkan buku baru yang diterbitkan atas kerjasama Forum Zakat, Dompet Dhuafa dan Pemkot Padang, yaitu buku ‘Southeast Asia Zakat Movement’,” ujar Arifin Purwakananta saat launching di auditorium FH Universitas Indonesia, Depok 27 Agustus 2008. Ungkapan itu langsung disambut tepuk tangan meriah hadirin yang mengikuti acara seminar nasional zakat dan launching buku.
Selanjutnya buku tersebut diserahkan secara resmi kepada Wakil Dekan FH UI dan disaksikan oleh seluruh peserta seminar pada saat itu.
Arifin selaku editor (bersama Noor Aflah) mengatakan buku ini merupakan kumpulan makalah para pembicara yang hadir pada saat acara Konferensi Zakat Asia Tenggara di Padang Nopember 2007 lalu.
Dengan membaca buku ini kita dapat melihat bagaimana awal mula terbentuknya wadah komunitas zakat asia tenggara ini terbentuk.
