Kamis, 11 September 2008

Pengamen VS Peminta Sumbangan

Pengamen Cilik VS Peminta Sumbangan

Kangen sekali rasanya saya menikmati suasana bus kota di Jakarta. Karenanya, hari itu saya berniat mengandangkan kuda besi tua saya sejenak dan memberinya cuti. Maklum umurnya sudah tua (seumur anak kelas 3 SMP). Sekaligus saya ingin mengenang enam tahun silam saat saya berebut kursi, berdesak bersikutan, bergelantungan dan menghirup ‘aroma parfum’ di bus kota yang serbaneka. Serta kangen rasanya mendengarkan ocehan, lantunan dan syair lagu serta puisi anak jalanan yang lalu lalang serta naik turun silih berganti di bus kota.

Hari itu, saya berangkat pukul 05.50. Waktu yang sangat pagi dan amat jarang saya jalani sebelumnya. Paling-paling dua atau tiga kali setahun. Saat ada acara mendesak. Sembari berniat mengejar waktu agar bisa sampai kantor jam 7.00. Atau paling lambat 7.30. Karena saya sudah komitmen dengan teman-teman kantor bahwa bulan Ramadhan ini jam kantor berubah menjadi 07.30 s.d 16.30 / 07.00 s.d. 16.00 wib.


Tak lama kemudian, datang bus Damri P21 Ciputat - Blok M. Awalnya ragu untuk naik. Tapi akhirnya kuputuskan untuk naik daripada nunggu Patas 57 Ciputat – Gajah Mada yang belum tentu setengah jam lagi muncul. Bus yang mirip onggokan besi tua ini ternyata masih menjadi pilihan favorit penumpang dari Ciputat. Terbukti begitu bergerak dari arah Pasar Ciputat yang sekarang sudah ‘bersolek’ (karena fly over-nya sudah mulai digunakan) bus Damri ini sudah penuh penumpang. Banyak yang sudah berdiri bergelantungan. Sampai bus-nya miring ke kiri. Ya, tak apalah. Kalau yang lain saja pada mau naik, kenapa saya tidak. Toh mereka dan saya juga sama-sama punya niat agar tidak telat masuk kantor. Apalagi begitu sampai di Blok M langsung dijemput Bus Way, hmm..sepertinya suasana di dalam Damri ini hilang oleh suasa penumpang Bus Way yang bening dan kelimis-kelimis...(bukan kelihatan miskin, lho....)

Bus berjalan melenggok. Sesekali bunyi kriet...kriet...terdengar dari kopling yang dipaksakan pak sopir. Memasuki titik-titik kemacetan, knalpot bus mulai memuntahkan asapnya yang hitam pekat. Di dalam bus, saya teringat saat naik motor tepat berada di belakang cerobong knalpot bis ini. Saya sering mengumpat karena aroma knalpotnya yang hitam pekat selalu menelusup ruang kosong badan saya sampai baju yang paling dalam. Tak pelak meskipun pakai jaket tebal, tetapi tetap saja begitu sampai kantor, jaket dibuka, wush....aroma knalpot yang tersimpan di lekukan baju dan badan saya langsung menyembul keluar. Ughh..! nikmat....

Dititik-titik kemacetan seperti inilah tempat para pengamen cilik dan peminta sumbangan melalukan aksinya. Termasuk para peminta-minta. Saya melilhat dari arah belakang, naik pengamen sekitar umur 8 tahun. Mungkin karena badannya kecil, sehingga tidak terlihat oleh teman seprofesinya di luar. Kemudian dari pintu depan naik juga peminta sumbangan yang membawa kotak amal. Sebelum naik dia sudah melihat ke dalam bus sambil mengamati apakah ada teman seprofesinya ataukah tidak. Dia tidak tahu kalau dari belakang sudah ada teman seprofesinya yang sudah naik duluan.

Mulailah si pengemen ini menyapa penumpang dengan salam pembuka. Sementara peminta sumbangan yang berdiri di bagian depan, kaget dan terbelalak ketika mendengar salam pembuka dari pengamen yang cukup melengking dari arah tengah bus. Sorot mata peminta sumbangan menatap tajam si anak. Sepertinya memberi isyarat agar lagunya dipercepat sehingga dia juga mendapat giliran menyalami penumpang. Tetapi karena pandangan si anak tertuju ke luar bus menjadikan dia tidak tahu bahwa di bagian depan ada sorot mata tajam yang sepertinya meminta untuk mempercepat aksinya.

Lagu pertama cukup enak dinikmati. Diiringi kecrek tutup botol ditangannya menambah sedikit berbeda daripada hanya vokal saja. Saya sendiri yang berdiri tepat di hadapan si anak merasa senang mendengar lagu yang dinyanyikan itu. Suaranya merdu dan liriknya juga hafal. Dalam benak saya berfikir, wah...jangan-jangan si anak ini terobsesi oleh Aries pemenang Indonesian Idol 2008. Kepiawaian Aries mampu menyihir Titi DJ saat audisi pertama melalui lagu yang dibawakan Aries (saya lupa judul dan penyanyi aslinya. Karena meskipun saya suka lagu tapi tidak minat untuk menghafal siapa penyanyi dan judulnya, pokoknya reff-nya begini...dapatkah aku memeluknya, jadikan bintang di surga...). Lima kali menjadi juri di Indonesian Idol, Areis-lah satu-satunya orang yang mampu membuat Titi DJ merinding dan menangis saat menyeleksi para audisi. Dan akhirnya melalui lagu yang dibawakan itu, Aries, sang pengamen jalalan, menjadi pemenang Indonesia Idol 2008. Dalam benak saya, mungkin si anak ini punya obsesi seperti Aries. Menjadi orang hebat yang dirintis dari jalanan. Sehingga ia memilih lagu itu sebagai lagu pilihan utama ketika berada di dalam bus kota.

Lagu pertama selesai saya sudah siap-siap dengan recehan yang tersedia di kantong tas saya. Ternyata, pengamen ini meneruskan lagu keduanya. Sambil kembali menyapa penumpang dia membawakan lagu keduanya dengan lirik yang juga terkenal. (tapi lagi-lagi saya tidak tahu penyanyi dan judulnya. Yang pasti saya suka lagu itu). Saat pengamen ini menoleh ke arah depan dia baru sadar kalau di depan ada dua mata yang menyorot tajam ke arahnya. Tapi dia malah cuek. Sementara si peminta sumbangan justru semakin geram dengan lagu kedua yang dibawakan si anak ini. Seakan-akan peminta sumbangan ini mau berbuat sesuatu untuk segera menyudahi nyanyian si anak. Saya mengamati gerak geriknya dengan serius. Secara bahasa tubuh, jelas-jelas ia ingin bertindak secara fisik. Karena dari tadi saya amati kotak amal yang ada ditangannya mulai dipukul-pukulkan ke arah paha dia. Wajahnya juga tegang memerah. Dan dia tidak mau turun dari bus meskipun di dalamnya sudah ada teman seprofesinya. Padahal lazimnya, jika di dalam bus sudah ada teman seprofesinya, biasanya salah satunya mengalah dan turun mencari bus lain yang tidak ada temannya.
Sementara pengamen cilik tadi menikmati lagu yang dia nyanyikan sendiri. Sepertinya, meskipun secara fisik anak ini jauh lebih kecil dibandingkan peminta sumbangan tadi, tapi mental jalanannya tak mau kalah. Semakin dia diplototi oleh peminta sumbangan justru membuat keberanian dia semakin kuat. Si anak melanjutkan lagu ketiganya. Saya sendiri juga terhenyak. Lho! Berani amat ini anak.

Begitu si peminta sumbangan mendengar si anak melanjutkan aksinya, tak lama kemudian dia mulai beringsut ke tengah. Prediksi saya mulai terbukti. Kalau pun dia mau turun, kenapa tidak melalui pintu depan saja. Toh lebih dekat. Kenapa ia memilih lewat belakang. Wah, pasti ada yang tidak beres ini, begitu gerutu saya..
Setelah dia berhasil melewati penumpang berdiri yang berjejal-jejal, akhirnya sampailah ia dekat dengan si anak. Sedangkan si anak tampak cuek tak menghiraukannya. Tiba-tiba tanpa sepatah katapun kotak amal yang dipegang tadi melayang ke arah tubuh si anak. Prak..!!..

Ha...!! saya tercengang. Si anak tak mengaduh. Dia hanya membalas dengan ejekan. Wue..!! (sambil menjulurkan lidahnya) Si pembawa kotak amal membalas lagi dengan mengacungkan kotak amalnya, tapi kali kedua ini tidak sampai dipukulkan si anak. Lagu ketiga yang dinyanyikan sempat terhenti. Para penumpangpun tak ada yang berbuat banyak atas kejadian itu. Pukulan ini justru membuat iba penumpang, di samping suaranya memang layak untuk diberi apresiasi. Akhirnya, begitu selesai lagu ketiga, mulailah senjata bungkus permen dikeluarkan. Dia menyusur dari satu kursi ke kursi lain. Begitu sampai di depan saya, saya melihat uang ribuan cukup memenuhi kantong senjatanya. Meskipun saya sendiri tidak memasukan yang ribuan, tapi minimal cukuplah kalau untuk beli satu buah gorengan.

Ternyata bus kota yang selama ini saya tinggalkan masih menyimpan banyak pelajaran hidup bagi saya dan mungkin penumpang lain di bus kota. Termasuk pelajaran yang saya dapatkan dari kedua ’pencari rizki’ di jalanan tadi. Bahwa berebut lahan rizki untuk mencari sesuap nasi terjadi di semua tempat. Saling sikut, saling tendang kalau perlu saling bunuh, terkadang menjadi pilihan bagi mereka yang tidak menyadari hakikat kehidupan dan cara mencari rizki yang baik dan halal di mata Allah.

Senin, 01 September 2008

Ramadhan

Ramadhan
Semoga Tidak Hanya Berulang dan Berulang


Aku bersimpuh memohon kepada-Mu, Ya Rabb
Agar Kesempatan Emas yang menghampiri hamba ini
Tidak lewat begitu saja

Aku berjanji kepada diriku, Ya Allah
Akan memaknai Bulan Penuh Makna ini
Dengan amalan lebih baik dari Ramadhan sebelumnya

Aku berlindung diri, ya Ghaffar
Dari gelimang dosa yang menjauhkan rahmat-Mu
Dari bujuk rayu nafsu pemuas duniawi

Ya, Qahhaar...
Kuatkan jiwa raga ini menggapai janji baik-Mu
Kokohkan diri ini menghalau ranjau nikmat-Mu

Agar si Dia tidak hanya melewati saya
Tanpa mampu mengisi perbuatan nyata
Yang bisa meningkatkan derajat di hadapan-Nya

Minggu, 31 Agustus 2008

Launching buku Zakat


Launching Buku Baru

“Bersama ini kami perkenalkan buku baru yang diterbitkan atas kerjasama Forum Zakat, Dompet Dhuafa dan Pemkot Padang, yaitu buku ‘Southeast Asia Zakat Movement’,” ujar Arifin Purwakananta saat launching di auditorium FH Universitas Indonesia, Depok 27 Agustus 2008. Ungkapan itu langsung disambut tepuk tangan meriah hadirin yang mengikuti acara seminar nasional zakat dan launching buku.
Selanjutnya buku tersebut diserahkan secara resmi kepada Wakil Dekan FH UI dan disaksikan oleh seluruh peserta seminar pada saat itu.
Arifin selaku editor (bersama Noor Aflah) mengatakan buku ini merupakan kumpulan makalah para pembicara yang hadir pada saat acara Konferensi Zakat Asia Tenggara di Padang Nopember 2007 lalu.
Dengan membaca buku ini kita dapat melihat bagaimana awal mula terbentuknya wadah komunitas zakat asia tenggara ini terbentuk.

Selasa, 26 Agustus 2008


Telah Terbit
Buku Ke-2 Noor Aflah

Berkat pertolongan dan karunia-Nya, buku kedua saya akhirnya bisa terbit. Setelah melalui proses penantian yang panjang, buku (yang merupakan kompilasi makalah) Konferensi Zakat Asia Tenggara di Padang ini akhirnya dapat saya selesaikan. Semua itu tidak lepas dari bantuan berbagai macam pihak.

Oleh karenanya sudah sepatutnya kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada pihak-pihak baik yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung selama proses penerbitan buku ini.

Buku ini sangat penting untuk dimiliki. Terutama bagi teman-teman yang konsent di bidang zakat. Bagi masyarakat umum yang ingin mengetahui pengelolaan zakat, baik di Indonesia maupun di negara surumpun kami anjurkan untuk membaca buku ini.

Melalui buku ini insya Allah banyak manfaat yang bisa dipetik oleh pembaca. Sekaligus memberi semangat pembaca dan masyarakat umum untuk mengelola zakat agar lebih serius dan giat lagi.

Untuk sementara, buku ini dapat diperoleh di Forum Zakat dan jaringan lembaga zakat. Insya Allah dalam waktu tidak begitu lama, buku ini juga dipasarkan secara umum di toko-toko buku ternama di sekitar Anda.
Buku ini juga dilaunching pada Rabu 27 Agustus 2008 di Auditorium FH UI Depok.

Buku pertama saya ’Zakat & Peran Negara’ juga dapat dibeli di Forum Zakat dan toko-toko buku terdekat.


tlp. 021-3148444

Kamis, 21 Agustus 2008

Krisis Kepemimpinan

Krisis Kepemimpinan

Hidup adalah perbuatan....
Indonesia pernah menjadi macan Asia...

Dan...
Masih banyak lagi jargon politik dan sesumbar anak bangsa yang kini akrab menghiasi layar kaca televisi kita. Masing-masing kita pasti berbeda dalam menyikapi tayangan yang berbau kampanye itu. Ada yang terpesona, terpedaya, tertarik, manggut-manggut terbujuk, padahal pada gilirannya nanti dia akan tertipu...
Saya sendiri makin lama makin muak melihat tayangan-tayangan seperti itu. Apalagi akhir-akhir ini semakin tambah wajah-wajah baru yang nongol di televisi sambil berbicara bagai seorang pahlawan yang ingin menyelamatkan bangsa ini.

Padahal masyarakat kita sudah banyak yang tahu siapa sebenarnya dia. Seperti apa track record-nya. Tapi mereka tetap saja tidak merasa malu mengajukan diri sebagai calon pemimpin bangsa ini.

Kondisi seperti ini jelas menunjukkan bahwa bangsa ini sedang mengalami krisis kepemimpinan. Empat kali ganti presiden ternyata belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Sepuluh tahun masa reformasi, masih saja tidak bisa membawa perubahan yang signifikan. Karenanya, pelaksanaan pemilu 2009, dianggap oleh mereka yang punya ambisi menjadi pemimpin, sebagai moment paling tepat untuk berperan sebagai ’satrio piningit’ penyelamat bangsa ini. Padahal, sudah banyak fakta menunjukkan bahwa masyarakat kita belum menemukan sosok pemimpin yang ideal yang mampu memimpin negeri ini. Terbutki dalam kurun waktu 10 tahun dan sudah dijalani empat presiden tetap saja negeri ini carut marut. Begitu juga dengan pelaksanaan pilkada di berbagai daerah ternyata masih dominan untuk tidak memilih alias golput.

Dalam konsep kepemimpinan, seorang pemimpin harus mempunyai prilaku yang mampu memotivasi orang lain (dengan cara apa saja) untuk tujuan tertentu, dan motivasi itu harus dapat merangsang dan menjadi pendorong kreatif untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan dan dirumuskan dengan baik. Seorang pemimpin harus mampu memobilisir orang sekaligus mampu bekerja.

Seperti kepemimpinan yang dijalankan oleh Baginda Nabi Muhammad saw. Beliau pemimpin yang patut dijadikan suri tauladan bagi siapapun. Bagi pemimpin negara, pemimpin perang maupun pemimpin rumah tangga. Nabi bukan hanya memimpin tapi juga bekerja. Beliau juga sebagai da’i, mengajak dan menggerakkan masyarakat, memimpin dan membuat perencanaan strategis untuk membangun masyarakat madani, institusi negara, mengelola, memelihara serta mengembangkannya. Walaupun semua gerak langkah dan aktifitas Nabi diilhami oleh kalimat suci “wa maa yanthiqu ‘anil hawa In huwa illa wahyu yuha (QS 53 An-Najm:3), tapi jelas-jelas kepribadiannya komplit menjadi seorang pemimpin. Nabi disebut sebagai workleader (pemimpin-kerja), sebuah istilah yang menggabungkan pekerjaan dan kepemimpinan sedemikian rupa sehingga mencerminkan hakikat yang sesungguhnya dari kepemimpinan yang efektif.

Pola kepemimpinan Nabi sangat konsisten dalam perilaku pemimpin-kerja, yaitu beliau sangat arif dan mengetahui bagaimana “mengatakan hal yang tepat” kepada orang yang tepat pada saat yang tepat, yang bisa diselesaikan dengan baik, tepat waktu dan sesuai dengan anggaran dana yang tersedia. Beliau juga mengungkapkan diri mereka melalui tindakan mereka (lisanu al-hal) dan dengan bahasa yang dipahami oleh siapa yang diajak berinteraksi dengan mereka (bi lisani qaumihi, wa bi qadri ‘uquulihim). Nabi menguasai seni percakapan dengan tindakan dan ucapan / workleading (bekerja sekaligus memimpin) yaitu ilmu seni kepemimpinan, yang meretas mitos bahwa pemimpin itu dilahirkan bukan dijadikan, tetapi kenyataan membuktikan bahwa setiap orang bisa belajar menjadi pemimpin-kerja.

Itulah sosok pemimpin yang sempurna dan ideal. Andai saja saat ini ada sosok anak bangsa yang meskipun belum sepenuhnya kriterianya sama seperti kriteria kepemimpinan yang dimiliki Nabi, namun hampir mendekati kriteria seperti itu, mungkin warga negara ini akan memilih dia sebagai pemimpin meskipun tanpa promosi di televisi.



Selasa, 12 Agustus 2008

Luar Biasa

Luar Biasa…

Pertemuan kita kali ini adalah pertemuan yang sangat luar biasa.…..
Itu semua karena nikmat Allah yang sangat luar biasa...
Sehingga pada hari ini kita bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang luar biasa....
Apalagi kita lihat tanyangan-tanyangan di televisi yang luar biasa....
Atas kejadian-kejadian di sekitar kita yang sangat luar biasa....

Dan masih banyak luar biasa-luar biasa lainnya yang disampaikan oleh petugas kultum di sebuah musholla perkantoran di Jakarta saat itu. Anehnya, karena kebetulan saya termasuk jamaah aktif di musholla itu, bukan hanya satu atau dua orang petugas kultum yang sepertinya senang memakai kata-kata luar biasa itu, tapi sudah lebih dari tiga petugas kultum yang fasih melafalkan luar biasa dalam setiap menggambarkan situasi-situasi dalam ceramahnya....
Bisa jadi di luar forum pengajian singkat itu banyak sekali para pembicara yang senang menggunakan kata luar biasa.
Inilah yang membuat saya bingung sendiri menerjemahkan arti kata luar biasa yang disampaikan oleh petugas kultum tersebut.
Kemudian saya berfikir, sebegitu sulitkah seseorang menggambarkan situasi atau keadaan tertentu sehingga ia tidak bisa lagi memilih kata atau istilah yang tepat untuk menggambarkan konteks situasi yang sedang ia bicarakan...
Padahal...
Kalau mereka mau saja memilih satu kata sifat yang tepat, saya yakin gambaran ’luar biasa’ yang ia maksudkan dalam pembicarannyan itu, akan dengan mudah dimengerti oleh orang yang mendengarkannya...
Dengan memilih kata yang tepat maka orang lain yang mendengarkan pembicaraan itu akan bisa menangkap pesan yang disampaikan oleh penceramah dan pembicara. Bukan malah sebaliknya, jadi tambah bingung.
Misal saja, luar biasanya nikmat Allah digambarkan dengan kata-kata ’agung’, ’tidak ada tandingannya’, ’tidak bisa dihitung’ dan masih banyak lagi....
Atau kejadian-kejadian di sekitar kita digambarkan dengan ’mengelus dada’, ’mencengangkan’, ’mengerikan’ dan sebagainya...
Kalau kata-kata luar biasa disifati dengan kata-kata yang jelas kan indah...
Orang lain yang mendengar juga jadi mengerti tentang isi pembicaraannya...
Begitu mas..dan mbakyu-mbakyu..

Senin, 30 Juni 2008

HP Menjengkelkan

HP (nan) Menjengkelkan


Andai aku tidak hidup di zaman sekarang ini, mungkin aku tidak ikut jengkel dengan perkakas yang satu ini. Bentuknya tidak seberapa. Digenggam saja terkadang tidak kentara. Memang boleh dibilang manfaatnya luar biasa. Tapi giliran perkakas ini digunakan di saat yang tidak tepat, membuat orang yang berada di sekelilingnya menjadi sewot mendengarnya. Apa gerangan perkakas tersebut ? Hand Phone !! Alias HaPe.
Sebagian orang mendewakan HP. Mereka bilang tidak bisa hidup tanpa HP. Sebagian lainnya mengatakan HP sudah menjadi ukuran gaya hidup seseorang. Semakin mahal dan semakin modern HP yang dipakai, semakin aneh-aneh fitur yang dimuat di HP, berarti semakin tinggi derajat orang tersebut. Ah, terlalu naif menurutku jika sampai ada yang ’memperlakukan’ HP sampai seburuk itu.
Pasalnya, berkali-kali saya dan mungkin orang lain juga dibuat jengkel oleh pemakai HP yang tidak tahu diri. Lihat saja imam sholat. Pak Imam shalat sekarang mendapat tugas baru mengingatkan jama’ahnya mematikan HP saat solat akan dimulai. Karuan saja semakin repot. Alih-alih mengingatkan supaya HP dimatikan, perintah lurus dan merapatkan shaf saja sepertinya tidak digubris. Akibatnya apa, saat sholat berlangsung, bunyi tat..tit..tut.., nada dering yang norak-norak tetap saja ramai bersahut-sahutan. Huh..! dasar tidak tahu diri. Kapan kita punya waktu khusuk menghadap Ilahi kalau saat salat diganggu dengan suara HP. Padahal peringatannya sudah ditempel mulai dari masuk ruang solat, ditempel ditembok atau kaca pintu masuk masjid ataupun musholla. Tapi tetap saja tak dihiraukan.
Itulah jengkel saya yang pertama. Yang tidak bisa saya terima meskipun dibantah dengan segudang alasan apapun. Sebab, apa susahnya kalau mematikan atau tidak membawa HP saat masuk ruang solat. Seberapa penting waktu yang cuma 5 sampai 10 menit tanpa memegang dengan HP. Mustahil kalau bilang tidak bisa!
Jengkel saya yang kedua terjadi saat mengikuti acara formal seperti seminar atau diskusi. Beberapa kali saya temui narasumber yang tidak sopan dengan audien. Misalnya saat dia memberikan presentasi tiba-tiba dihentikan oleh si kotak kecil hitam (atau apalah warnanya) di hadapannya berbunyi tat..tit..tut..Betapa semakin jengkelnya saya ketika dia justru menjawab panggilan itu. Lebih menyakitkannya lagi jawabannya panjang dan disertai heha hehe…ketawa-ketiwi..Lebih sontoloyonya lagi, dia bangga dan memberi tahu kepada audien bahwa yang telpon tadi pejabat atau orang hebat. Huh..emang guwe pikirin..!! mau presiden sekalian kek tetap saja kamu norak. Begitu jawabku dalam hati sambil dongkol. Sementara orang-orang di sampingku saling memandang. Ada yang menggeleng-gelengkan kepala. Tanda senang..?!! Saya yakin pasti mereka juga muak.
Jengkel saya berikutnya ketika melihat pemakai jalan menempelkan HP di kupingnya sambil ngomong sendiri. Tidak peduli yang jalan kaki menyebrang, mengendarai sepeda motor sampai yang jalan kaki di pedestrian, kalau yang pakai mobil tingkat jengkelnya dibawahnya sedikit. Semuanya pernah saya jumpai dan membuat saya gedeg.
Sudah tahu kalau sedang nyebrang jalan kok perhatiannya kepada pembicaraan di HP. Apa dia punya nyawa sepuluh..?! Ditabrak mati satu, lalu yang lain menggantikan..?! Begitu juga yang jalan kali di pedestrian. Saya pernah ditabrak dan diinjak kaki saya sama orang yang sedang main game di HP. Dua tangan pegang HP sambil pecengas pecengis tiba-tiba bruk nabrak saya. Gimana tidak mau marah. Begitu juga dengan pengendara sepeda motor. Mereka lebih edan lagi. Sudah puter balik tidak nyalain lampu sen, tangannya sambil pegang HP. Dibilangin malah balik memarahi saya. Oalah...bocah gembluuuungg....
Huh..!! memang zaman modern benar-benar menguji kesabaran hati kita. Mau tidak mau kita dipaksa orang lain untuk memahami keinginan mereka. Padahal sebenarnya ukuran kewajarannya sudah tidak pantas lagi diberi toleransi. Seperti perasaan jengkel saya ketika menemui pemakai HP yang tidak pada tempatnya tadi. Saya merasa jengkel seperti itu ’halal’ hukumnya. Alias sah-sah saja.
Sebab, apa susahnya barang sejenak memisahkan diri dari belenggu HP. Toh tidak akan menganggu aktifitas kita. Bahkan justru memberi sikap elegan kepada kita yang tampil apa adanya.