Minggu, 31 Agustus 2008

Launching buku Zakat


Launching Buku Baru

“Bersama ini kami perkenalkan buku baru yang diterbitkan atas kerjasama Forum Zakat, Dompet Dhuafa dan Pemkot Padang, yaitu buku ‘Southeast Asia Zakat Movement’,” ujar Arifin Purwakananta saat launching di auditorium FH Universitas Indonesia, Depok 27 Agustus 2008. Ungkapan itu langsung disambut tepuk tangan meriah hadirin yang mengikuti acara seminar nasional zakat dan launching buku.
Selanjutnya buku tersebut diserahkan secara resmi kepada Wakil Dekan FH UI dan disaksikan oleh seluruh peserta seminar pada saat itu.
Arifin selaku editor (bersama Noor Aflah) mengatakan buku ini merupakan kumpulan makalah para pembicara yang hadir pada saat acara Konferensi Zakat Asia Tenggara di Padang Nopember 2007 lalu.
Dengan membaca buku ini kita dapat melihat bagaimana awal mula terbentuknya wadah komunitas zakat asia tenggara ini terbentuk.

Selasa, 26 Agustus 2008


Telah Terbit
Buku Ke-2 Noor Aflah

Berkat pertolongan dan karunia-Nya, buku kedua saya akhirnya bisa terbit. Setelah melalui proses penantian yang panjang, buku (yang merupakan kompilasi makalah) Konferensi Zakat Asia Tenggara di Padang ini akhirnya dapat saya selesaikan. Semua itu tidak lepas dari bantuan berbagai macam pihak.

Oleh karenanya sudah sepatutnya kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada pihak-pihak baik yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung selama proses penerbitan buku ini.

Buku ini sangat penting untuk dimiliki. Terutama bagi teman-teman yang konsent di bidang zakat. Bagi masyarakat umum yang ingin mengetahui pengelolaan zakat, baik di Indonesia maupun di negara surumpun kami anjurkan untuk membaca buku ini.

Melalui buku ini insya Allah banyak manfaat yang bisa dipetik oleh pembaca. Sekaligus memberi semangat pembaca dan masyarakat umum untuk mengelola zakat agar lebih serius dan giat lagi.

Untuk sementara, buku ini dapat diperoleh di Forum Zakat dan jaringan lembaga zakat. Insya Allah dalam waktu tidak begitu lama, buku ini juga dipasarkan secara umum di toko-toko buku ternama di sekitar Anda.
Buku ini juga dilaunching pada Rabu 27 Agustus 2008 di Auditorium FH UI Depok.

Buku pertama saya ’Zakat & Peran Negara’ juga dapat dibeli di Forum Zakat dan toko-toko buku terdekat.


tlp. 021-3148444

Kamis, 21 Agustus 2008

Krisis Kepemimpinan

Krisis Kepemimpinan

Hidup adalah perbuatan....
Indonesia pernah menjadi macan Asia...

Dan...
Masih banyak lagi jargon politik dan sesumbar anak bangsa yang kini akrab menghiasi layar kaca televisi kita. Masing-masing kita pasti berbeda dalam menyikapi tayangan yang berbau kampanye itu. Ada yang terpesona, terpedaya, tertarik, manggut-manggut terbujuk, padahal pada gilirannya nanti dia akan tertipu...
Saya sendiri makin lama makin muak melihat tayangan-tayangan seperti itu. Apalagi akhir-akhir ini semakin tambah wajah-wajah baru yang nongol di televisi sambil berbicara bagai seorang pahlawan yang ingin menyelamatkan bangsa ini.

Padahal masyarakat kita sudah banyak yang tahu siapa sebenarnya dia. Seperti apa track record-nya. Tapi mereka tetap saja tidak merasa malu mengajukan diri sebagai calon pemimpin bangsa ini.

Kondisi seperti ini jelas menunjukkan bahwa bangsa ini sedang mengalami krisis kepemimpinan. Empat kali ganti presiden ternyata belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Sepuluh tahun masa reformasi, masih saja tidak bisa membawa perubahan yang signifikan. Karenanya, pelaksanaan pemilu 2009, dianggap oleh mereka yang punya ambisi menjadi pemimpin, sebagai moment paling tepat untuk berperan sebagai ’satrio piningit’ penyelamat bangsa ini. Padahal, sudah banyak fakta menunjukkan bahwa masyarakat kita belum menemukan sosok pemimpin yang ideal yang mampu memimpin negeri ini. Terbutki dalam kurun waktu 10 tahun dan sudah dijalani empat presiden tetap saja negeri ini carut marut. Begitu juga dengan pelaksanaan pilkada di berbagai daerah ternyata masih dominan untuk tidak memilih alias golput.

Dalam konsep kepemimpinan, seorang pemimpin harus mempunyai prilaku yang mampu memotivasi orang lain (dengan cara apa saja) untuk tujuan tertentu, dan motivasi itu harus dapat merangsang dan menjadi pendorong kreatif untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan dan dirumuskan dengan baik. Seorang pemimpin harus mampu memobilisir orang sekaligus mampu bekerja.

Seperti kepemimpinan yang dijalankan oleh Baginda Nabi Muhammad saw. Beliau pemimpin yang patut dijadikan suri tauladan bagi siapapun. Bagi pemimpin negara, pemimpin perang maupun pemimpin rumah tangga. Nabi bukan hanya memimpin tapi juga bekerja. Beliau juga sebagai da’i, mengajak dan menggerakkan masyarakat, memimpin dan membuat perencanaan strategis untuk membangun masyarakat madani, institusi negara, mengelola, memelihara serta mengembangkannya. Walaupun semua gerak langkah dan aktifitas Nabi diilhami oleh kalimat suci “wa maa yanthiqu ‘anil hawa In huwa illa wahyu yuha (QS 53 An-Najm:3), tapi jelas-jelas kepribadiannya komplit menjadi seorang pemimpin. Nabi disebut sebagai workleader (pemimpin-kerja), sebuah istilah yang menggabungkan pekerjaan dan kepemimpinan sedemikian rupa sehingga mencerminkan hakikat yang sesungguhnya dari kepemimpinan yang efektif.

Pola kepemimpinan Nabi sangat konsisten dalam perilaku pemimpin-kerja, yaitu beliau sangat arif dan mengetahui bagaimana “mengatakan hal yang tepat” kepada orang yang tepat pada saat yang tepat, yang bisa diselesaikan dengan baik, tepat waktu dan sesuai dengan anggaran dana yang tersedia. Beliau juga mengungkapkan diri mereka melalui tindakan mereka (lisanu al-hal) dan dengan bahasa yang dipahami oleh siapa yang diajak berinteraksi dengan mereka (bi lisani qaumihi, wa bi qadri ‘uquulihim). Nabi menguasai seni percakapan dengan tindakan dan ucapan / workleading (bekerja sekaligus memimpin) yaitu ilmu seni kepemimpinan, yang meretas mitos bahwa pemimpin itu dilahirkan bukan dijadikan, tetapi kenyataan membuktikan bahwa setiap orang bisa belajar menjadi pemimpin-kerja.

Itulah sosok pemimpin yang sempurna dan ideal. Andai saja saat ini ada sosok anak bangsa yang meskipun belum sepenuhnya kriterianya sama seperti kriteria kepemimpinan yang dimiliki Nabi, namun hampir mendekati kriteria seperti itu, mungkin warga negara ini akan memilih dia sebagai pemimpin meskipun tanpa promosi di televisi.



Selasa, 12 Agustus 2008

Luar Biasa

Luar Biasa…

Pertemuan kita kali ini adalah pertemuan yang sangat luar biasa.…..
Itu semua karena nikmat Allah yang sangat luar biasa...
Sehingga pada hari ini kita bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang luar biasa....
Apalagi kita lihat tanyangan-tanyangan di televisi yang luar biasa....
Atas kejadian-kejadian di sekitar kita yang sangat luar biasa....

Dan masih banyak luar biasa-luar biasa lainnya yang disampaikan oleh petugas kultum di sebuah musholla perkantoran di Jakarta saat itu. Anehnya, karena kebetulan saya termasuk jamaah aktif di musholla itu, bukan hanya satu atau dua orang petugas kultum yang sepertinya senang memakai kata-kata luar biasa itu, tapi sudah lebih dari tiga petugas kultum yang fasih melafalkan luar biasa dalam setiap menggambarkan situasi-situasi dalam ceramahnya....
Bisa jadi di luar forum pengajian singkat itu banyak sekali para pembicara yang senang menggunakan kata luar biasa.
Inilah yang membuat saya bingung sendiri menerjemahkan arti kata luar biasa yang disampaikan oleh petugas kultum tersebut.
Kemudian saya berfikir, sebegitu sulitkah seseorang menggambarkan situasi atau keadaan tertentu sehingga ia tidak bisa lagi memilih kata atau istilah yang tepat untuk menggambarkan konteks situasi yang sedang ia bicarakan...
Padahal...
Kalau mereka mau saja memilih satu kata sifat yang tepat, saya yakin gambaran ’luar biasa’ yang ia maksudkan dalam pembicarannyan itu, akan dengan mudah dimengerti oleh orang yang mendengarkannya...
Dengan memilih kata yang tepat maka orang lain yang mendengarkan pembicaraan itu akan bisa menangkap pesan yang disampaikan oleh penceramah dan pembicara. Bukan malah sebaliknya, jadi tambah bingung.
Misal saja, luar biasanya nikmat Allah digambarkan dengan kata-kata ’agung’, ’tidak ada tandingannya’, ’tidak bisa dihitung’ dan masih banyak lagi....
Atau kejadian-kejadian di sekitar kita digambarkan dengan ’mengelus dada’, ’mencengangkan’, ’mengerikan’ dan sebagainya...
Kalau kata-kata luar biasa disifati dengan kata-kata yang jelas kan indah...
Orang lain yang mendengar juga jadi mengerti tentang isi pembicaraannya...
Begitu mas..dan mbakyu-mbakyu..

Senin, 30 Juni 2008

HP Menjengkelkan

HP (nan) Menjengkelkan


Andai aku tidak hidup di zaman sekarang ini, mungkin aku tidak ikut jengkel dengan perkakas yang satu ini. Bentuknya tidak seberapa. Digenggam saja terkadang tidak kentara. Memang boleh dibilang manfaatnya luar biasa. Tapi giliran perkakas ini digunakan di saat yang tidak tepat, membuat orang yang berada di sekelilingnya menjadi sewot mendengarnya. Apa gerangan perkakas tersebut ? Hand Phone !! Alias HaPe.
Sebagian orang mendewakan HP. Mereka bilang tidak bisa hidup tanpa HP. Sebagian lainnya mengatakan HP sudah menjadi ukuran gaya hidup seseorang. Semakin mahal dan semakin modern HP yang dipakai, semakin aneh-aneh fitur yang dimuat di HP, berarti semakin tinggi derajat orang tersebut. Ah, terlalu naif menurutku jika sampai ada yang ’memperlakukan’ HP sampai seburuk itu.
Pasalnya, berkali-kali saya dan mungkin orang lain juga dibuat jengkel oleh pemakai HP yang tidak tahu diri. Lihat saja imam sholat. Pak Imam shalat sekarang mendapat tugas baru mengingatkan jama’ahnya mematikan HP saat solat akan dimulai. Karuan saja semakin repot. Alih-alih mengingatkan supaya HP dimatikan, perintah lurus dan merapatkan shaf saja sepertinya tidak digubris. Akibatnya apa, saat sholat berlangsung, bunyi tat..tit..tut.., nada dering yang norak-norak tetap saja ramai bersahut-sahutan. Huh..! dasar tidak tahu diri. Kapan kita punya waktu khusuk menghadap Ilahi kalau saat salat diganggu dengan suara HP. Padahal peringatannya sudah ditempel mulai dari masuk ruang solat, ditempel ditembok atau kaca pintu masuk masjid ataupun musholla. Tapi tetap saja tak dihiraukan.
Itulah jengkel saya yang pertama. Yang tidak bisa saya terima meskipun dibantah dengan segudang alasan apapun. Sebab, apa susahnya kalau mematikan atau tidak membawa HP saat masuk ruang solat. Seberapa penting waktu yang cuma 5 sampai 10 menit tanpa memegang dengan HP. Mustahil kalau bilang tidak bisa!
Jengkel saya yang kedua terjadi saat mengikuti acara formal seperti seminar atau diskusi. Beberapa kali saya temui narasumber yang tidak sopan dengan audien. Misalnya saat dia memberikan presentasi tiba-tiba dihentikan oleh si kotak kecil hitam (atau apalah warnanya) di hadapannya berbunyi tat..tit..tut..Betapa semakin jengkelnya saya ketika dia justru menjawab panggilan itu. Lebih menyakitkannya lagi jawabannya panjang dan disertai heha hehe…ketawa-ketiwi..Lebih sontoloyonya lagi, dia bangga dan memberi tahu kepada audien bahwa yang telpon tadi pejabat atau orang hebat. Huh..emang guwe pikirin..!! mau presiden sekalian kek tetap saja kamu norak. Begitu jawabku dalam hati sambil dongkol. Sementara orang-orang di sampingku saling memandang. Ada yang menggeleng-gelengkan kepala. Tanda senang..?!! Saya yakin pasti mereka juga muak.
Jengkel saya berikutnya ketika melihat pemakai jalan menempelkan HP di kupingnya sambil ngomong sendiri. Tidak peduli yang jalan kaki menyebrang, mengendarai sepeda motor sampai yang jalan kaki di pedestrian, kalau yang pakai mobil tingkat jengkelnya dibawahnya sedikit. Semuanya pernah saya jumpai dan membuat saya gedeg.
Sudah tahu kalau sedang nyebrang jalan kok perhatiannya kepada pembicaraan di HP. Apa dia punya nyawa sepuluh..?! Ditabrak mati satu, lalu yang lain menggantikan..?! Begitu juga yang jalan kali di pedestrian. Saya pernah ditabrak dan diinjak kaki saya sama orang yang sedang main game di HP. Dua tangan pegang HP sambil pecengas pecengis tiba-tiba bruk nabrak saya. Gimana tidak mau marah. Begitu juga dengan pengendara sepeda motor. Mereka lebih edan lagi. Sudah puter balik tidak nyalain lampu sen, tangannya sambil pegang HP. Dibilangin malah balik memarahi saya. Oalah...bocah gembluuuungg....
Huh..!! memang zaman modern benar-benar menguji kesabaran hati kita. Mau tidak mau kita dipaksa orang lain untuk memahami keinginan mereka. Padahal sebenarnya ukuran kewajarannya sudah tidak pantas lagi diberi toleransi. Seperti perasaan jengkel saya ketika menemui pemakai HP yang tidak pada tempatnya tadi. Saya merasa jengkel seperti itu ’halal’ hukumnya. Alias sah-sah saja.
Sebab, apa susahnya barang sejenak memisahkan diri dari belenggu HP. Toh tidak akan menganggu aktifitas kita. Bahkan justru memberi sikap elegan kepada kita yang tampil apa adanya.

Senin, 23 Juni 2008


Kepada Siapapun dan Dimanapun
Jangan Belenggu Tanganmu untuk Bersedekah

Angka kemiskinan di Indonesia terus meningkat. Apalagi pasca kenaikan harga BBM. Diperkirakan orang miskin di Indonesia mencapai lebih dari 41 juta orang. Kondisi seperti inilah yang kemudian memaksa orang miskin untuk mencari sesuap nasi dengan berbagai macam cara. Termasuk dengan meminta-minta di perempatan jalan.
Jika sepuluh tahun lalu peminta-minta di perempatan jalan atau di lampu pengatur arus lalu lintas (traffic light) hanya kita temui di kota-kota besar seperti Surabaya atau Jakarta, namun pemandangan serupa kini telah menghiasai hampir seluruh penjuru kota-kota kecil di berbagai daerah. Kondisi ekonomi bangsa yang masih terpuruk hingga kini merupakan penyebab utama orang-orang miskin ini untuk mengais rizki di perempatan jalan.
Dengan wajah welas asih, berpakaian lusuh, mereka berharap uluran tangan pemakai jalan. Dari anak kecil yang melantunkan lagu-lagu yang mungkin dia sendiri tidak tahu artinya, seorang ibu-ibu sambil menggendong bayi hingga seorang yang –maaf– tidak sempurna fisiknya semuanya berlomba mencari simpati dan belas kasihan dari para pengguna jalan. Begitu banyak cara yang mereka lakukan untuk mengetuk pintu hati para pengguna jalan agar mereka mendapatkan sedikit uang.
Memang bagi sebagian orang, keadaan seperti itu bisa menggangu pemakai jalan. Namun itu semua tak pernah dihiraukan oleh para peminta-minta. Mungkin dalam benaknya mengatakan apa yang dia lakukan halal hukumnya. Bisa jadi istilah daripada mencuri atau mencopet lebih baik meminta-minta menjadi pedoman bagi mereka.
Bagaimana sikap kita sebagai pengguna jalan melihat fenomena di depan mata seperti itu ? Mengulurkan tangan, memberi bantuan dan bersedekah bagi para peminta-minta adalah satu perbuatan yang didorong oleh nurani. Di samping juga anjuran agama.
Islam mengajarkan kita untuk memperbanyak sedekah. Kepada siapapun dan dimanapun. Tak terkecuali di perempatan-perempatan jalan. Tujuannya agar rezeki yang diberikan Allah menjadi barakah. Rasulullah SAW bersabda, ''Belilah semua kesulitanmu dengan sedekah. ''Dalam hadis lain, Rasulullah SAW menjelaskan, ''Setiap awal pagi, semasa terbit matahari, ada dua malaikat menyeru kepada manusia di bumi. Yang satu menyeru, 'Ya Tuhanku, karuniakanlah pengganti kepada orang yang membelanjakan hartanya kerena Allah'. Yang satu lagi menyeru, 'Musnahkanlah orang yang menahan hartanya'.''
Sedekah walaupun kecil tetapi amat berharga di sisi Allah SWT. Orang yang bakhil dan kikir dengan tidak menyedekahkan sebagian hartanya akan merugi di dunia dan akhirat karena tidak ada keberkahan. Jadi, sejatinya orang yang bersedekah adalah untuk kepentingan dirinya. Sebab, menginfakkan harta akan memperoleh berkah, dan sebaliknya menahannya adalah celaka.

Fenomena Peminta-minta di Jalanan
Kalau mau jujur, tak satupun orang di dunia ini punya cita-cita menjadi peminta-minta. Ingat waktu masih kecil, betapa besarnya harapan anak-anak agar kelak menjadi orang berguna. Ada yang ingin menjadi presiden, dokter, profesor dan lain sebagainya. Hampir semua anak bercita-cita luhur seperti itu. Tak terkecuali mereka anak-anak kecil yang sekarang ini (terpaksa) menjadi peminta-minta di jalanan. Bagi mereka yang telanjur nyemplung jadi peminta-minta di jalanan pasti tak akan mau bilang kalau cita-citanya menjadi peminta-minta.
Dengan demikian menjadi peminta-minta adalah suatu keadaan terpaksa. Orang yang terpaksa berarti hidupnya dihimpit penderitaaan. Islam mendorong umatnya agar membantu mereka yang menderita. Oleh karena itu harus kita tolong dan kita bantu. Karena faktanya, hampir sebagian besar peminta-minta di jalanan adalah orang-orang yang sedang menghadapi penderitaan hidup.
Memberi sedekah adalah sebagai wujud rasa syukur atas rezeki yang diberikan Allah SWT kepada kita. Memberi sedekah kepada siapapun adalah wujud rasa cinta kepada sesama. Bisa jadi kita memilah-milah kondisi peminta-minta. Kalau orangnya masih sehat dan secara fisik bisa bekerja, mungkin hati kita berontak sambil berkata ’bukankah dia bisa mencari pekerjaan yang layak?’. Namun bukankah ajaran sedekah yang dianjurkan Nabi tidak memandang siapa dan kondisinya seperti apa orang yang kita beri sedekah ?
Oleh karenanya, kalau sudah niat memberi, jangan ragu untuk memberi. Relakan harta yang kita berikan untuk mereka nikmati. Hilangkan syak wasangka buruk terhadap sikap dan prilaku yang ditunjukkan para pengais rizki di jalanan atau dimanapun peminta-minta itu berada. Jauhkan pikiran kita dari prasangka buruk akan penggunaan uang yang kita berikan itu. Sebaiknya, berdoalah agar harta yang kita berikan menjadi amal jariyah kita.
Mengatasi maraknya peminta-minta di jalanan bagaikan mengurai benang kusut yang tak kunjung selesai. Selama republik ini menggalakkan program pengentasan rakyat miskin, namun selama itu pula fenomena peminta-minta di jalanan tetap saja menjamur.
Larangan mengemis atau meminta-minta sebagaimana yang ditegaskan di KUHP pasal 504 pasal 01 dan 02 tak ubahnya sebuah larangan yang mandul. Pemerintah sendiri gagal mencarikan jalan keluar untuk mengangkat harkat kehidupan mereka. Tugas negara untuk memelihara fakir miskin dan orang telantar sebagaimana yang diamanahkan UUD 1945 sampai sekarang masih belum terlihat perannya.
Malah justru peran lembaga zakatlah yang kini sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang sedang kesusahan. Lembaga zakat berupaya sedemikian rupa membantu kesulitan masyarakat miskin dengan berbagai programnya. Tak terkecuali program pemberdayaan bagi para orang miskin di jalanan. Hanya saja diakui tidak mudah mengajak peminta-minta itu merubah nasibnya. Apalagi boleh dibilang meminta-minta sudah menjadi ’mata pencaharian’ mereka sehari-hari. Kendati demikian, sekeras apapun hati seseorang pasti ada di antara mereka yang ingin meninggalkan dunia peminta-minta.
Karenanya, jangan belenggu tanganmu untuk tetap mengeluarkan sedekah di manapun berada dan kepada siapapun sedekah itu diberikan. Sementara bagi lembaga zakat agar tetap terus berkreasi menciptakan program inovatif dan strategis bagi pemberdayaan masyarakat miskin yang membutuhkan.

Senin, 16 Juni 2008

Pudarnya Sikap Empati

Cuaca di bandara sangat panas. Terik matahari membuat wajah lelaki itu mengeluarkan keringat. Dua tas menggelayut di tangan kanan dan kirinya. Ia berjalan di belakang istri dan ketiga anaknya. Sang istri menggendong si bungsu sambil menenteng tas di tangannya.
Sebenarnya tak ada yang aneh dalam diri keluarga tersebut. Tapi, ada yang tak biasa di lingkungan kita. Sehingga membuat mereka menjadi pusat perhatian banyak orang di bandara. Apa pasal ? Sang ibu yang menggendong si bungsu dalam kondisi hamil tua. Tak lama lagi waktu persalinan tiba. Sementara ketiga anak lainnya masih sangat belia. Rata-rata jarak umurnya satu tahun di antara mereka.
Masuk ke pesawat tak ada perlakuan khusus dari pramugari. Jangankan menuntun si anak, menyapa santun pun tidak. Apalagi menawarkan kursi kosong di kelas VIP. Yang ada malah sikap sinis melihat sang ibu yang hamil tua dan diikuti ketiga anak kecil dibelakangnya.
Untuk perjalanan satu atau dua jam, mungkin keadaan seperti ini bisa ditolerir tapi bagaimana jika perjalanannya jauh ke luar negeri. Apakah tidak ada pelayanan dan fasilitas khusus bagi penumpang dalam keadaan darurat seperti ini.
Anak adalah amanat dari Allah. Apapun keadaannya seorang ibu akan berusaha untuk tetap menjaganya. Begitu pula dengan bayi yang masih ada dalam kandungan sang ibu. Pasti ia berharap dirinya dan anaknya nanti lahir dengan selamat.
Bagi sang ibu, perlakuan seperti itu tidak membuat dirinya berkecil hati. Ia tetap menunjukkan sikap wajar seperti penumpang lainnya di pesawat. Sementara penumpang lainnya tak bisa berbuat apa-apa. Kecuali menaruh simpati dalam hati dan rasa iba atas sketsa kehidupan di depan mata.
Tiba di bandara London susana menjadi berbeda. Turun dari pesawat, sang ibu yang sedang hamil tua di sambut petugas dengan hangat dan bersahabat. Padahal ia baru pertama kali menginjakkan kaki di negara itu. Petugas memberikan ruang istirahat khusus bagi si ibu. Mereka juga memberikan layanan luar biasa bagi anak-anak kecil yang bersama ibunya. Segala macam mainan anak-anak, mulai dari boneka, mobil-mobilan dan makanan ringan semua diberikan. Rasa peduli dan sikap empati yang bernuansa Islami diperlihatkan petugas layanan umum di negara yang mayoritas penduduknya non muslim.
Keluar dari bandara, mobil ambulans pun telah siap siaga. Mengantar sang ibu menuju tempat tinggalnya. Sampai di tempat tinggal, lagi-lagi ia mendapatkan layanan yang tidak ia duga. Sambutan tetangganya melebihi seorang saudara, padahal ia baru pertama kali mengenalnya. Begitu juga para petugas di lingkungannya (semacam petugas RT / Kelurahan) yang akrab dan bersahabat.
Petugas juga siap membantu si ibu jika sewaktu-waktu persalinan tiba. Dan ternyata, keesokan harinya tanda-tanda persalinan mulai terasa. Petugas mengantarnya ke rumah sakit terdekat. Mereka juga ikut menunggui si ibu selama persalinan berlangsung. Sampai akhirnya tangis bayi pun pecah siang itu. Rasa gembira menyelimuti suasana rumah sakit. Tak ketinggalan para petugas. Mereka juga ikut bersuka cita atas kelahiran sang jabang bayi. Karangan bunga, ucapan selamat dan tali kasih dari petugas diberikan kepada keluarga pendatang baru yang belum pernah mereka kenal sebelumnya.
Tak ada kesulitan izin tinggal bagi pendatang baru, apalagi kondisinya darurat. Begitu juga tak ada istilah permintaan uang jaminan pembayaran rumah sakit bagi kondisi seperti yang dialami keluarga itu. Semua layanan dipermudah. Bahkan petugasnya terlibat membantu secara langsung.
Betapa indahnya jika cinta kasih itu diberikan di antara kita tanpa melihat siapa mereka dan darimana mereka berasal. Betapa mulianya kehormatan bangsa kita jika masyarakatnya mau melakukan seperti yang dilakukan petugas ; mulai dari bandara London sampai kelurahan di sana.
Lalu bagaimana dengan sikap pramugari serta tidak tersedianya layanan darurat di bandara kita. Di manakah nilai-nilai ketimuran kita yang menjunjung tinggi kekeluargaan. Sudah pudarkah rasa empati di antara kita?